Kreatif & Inovatif

kata kunci kegagalan adalah "HAMPIR", kata kunci motivasi adalah "NANTI", kata kunci sukses adalah "SEKARANG"

Berkah Nasi Goreng

nasgorrofikSecara alamiah manusia memang diciptakan dengan kemampuan yg lengkap. Lihatlah sekarang, manusia sudah menguasai setiap relung kehidupan. Mulai dari hutan, lautan, udara, sampai angkasa luar sudah tereksploitasi oleh makhluk yang bernama manusia. Bahkan banyak yang rusak karenanya.

Namun, yang perlu menjadi renungan kita adalah, bahwa manusia bisa mendapatkan semua itu secara bertahap. Prosesnya akan terasa lambat jika dibanding dengan rata-rata umur manusia. Ambil contoh, Wright bersaudara yg pertama kali menciptakan cikal bakal  pesawat terbang sekitar hampir seabad yg lalu baru sekarang ini teknologi penerbangan manusia mencapai titik tercanggihnya. Yah… semua secara bertahap dan akan disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Dalam ruang yang lebih sempit, masih ingat melekat di kepala saya prosesnya sampai saya bisa naik sepeda. Sewaktu keci saya termasuk penakut. Saya sampai diancam oleh Bapak saya belajar sepeda. sambil berurai air mata saya goes sepeda yg boncengannya dipeganging saudara perempuan saya untuk menjaga keseimbangan. Saya takut jatuh dari sepeda. sampai kemudian apa yg saya takutkan benar-benar terjadi, Saya sudah sedikit lihai naik sepeda sudah tidak perlu ada yg menyeimbangkan. Suatu sore,  sehabis berlatih sepeda dijalanan depan rumah, saya pulang menuju rumah naik sepeda. Saya harus melewati sebuah “Brug” (bahasa kampung saya yg berarti jembatan) tapi tidak berhasil dan “gubrak”….  saya nylonong masuk ke got yg lebarnya sekitar 1 meter.

Perjalanan bisnis Saya juga mengalami proses serupa, jatuh bangun, kena tipu, bangkrut, lapak ditutup, disamping juga kisah manisnya. Pernah ketika saya buka nasi goreng di kafe tempat saya kerja dulu, omsetnya pernah mencapai 700rb sehari dg harga 4000 perak/piringnya. Kalo dihitung 1 liter bisa 8 porsi berarti  700.000/4000 = berati 175 porsi/8 = 22 liter. Sekali masak 2 liter, artinya rice cooker itu sampai 11 kali dalam sehari untuk menanak nasi.  Sampai jebol itu ricecooker. Meskipun akhirnya kafe itu ditutup oleh HRD.

Cerita nasi goreng di kafe itu barangkali bisa menjadi inspirasi buat kita semua, bermula kabar yg terdengar bahwa ada sebuah gedung yg akan diserahkan pengelolaannya ke Kopkar. Saya menelusuri kabar ini. Dan memang lebih mudah mendapat sumber yg bisa dipegang karena teman satu kerjaan akhirnya Singkat cerita saya mendapat lapak kecil ukuran sekitar 1 x 2 meter-an. Sumpah demi Allah waktu itu dan bahkan sampai sebulan pertama saya cuma bayar sewanya saja tempat itu kosong. Waktu saya ambil keputusan sewa lapak 1×2 itu saya belum tahu untuk apa, maksudnya mau jualan apa! Sampai dibulan kedua, adik saya yg calon guru di semarang liburan dan main ke bekasi, ke tempat Saya. saya tawarkan ke dia untuk mengisi liburannya dg jualan di lapak 1×2 meter itu. Gila ya… Abang macam apa Saya ini, ada adik jauh-jauh liburan dari semarang bukannya di ajak ke Dufan tapi malah diajak jualan. Harap maklum saya yg cuman buruh pabrik mana bisa mengajak dia ke sana. Paling saya kesana kalo pas acara FUNDAY dari pabrik. Tapi itulah asyiknya. Coba bayangkan, Saya, adik saya harus jualan makanan sementara kami cuma tahu cara makannya, tidak cara membuatnya! Ahaa..! saya lupa siapa yg mencetuskan ide pertama kali, jualan es kelapa muda. Sore itu juga saya hunting perlengkapan gelas, sedotan, termos es, centong dan ubo rampenya siap. Tinggal masalahnya, Saya mau jualan di kafe pabrik, kayaknya kulit kelapa pasti jadi masalah. Bagaimana caranya ? Pusing lagi deh! mana perlengkapan perangnya sudah kebeli semua. Keputusannya sebagian proses dipindah ke rumah, proses pembuatan es kelapa di rumah. jadi ke kafe tinggal bawa es kelapa yg sudah siap dijual. Esok paginya saya beserta adik ke tempat biasa saya dan istri saya beli es kelapa, basa-basi dikit sambil minum segelas es kelapa sampai pada deal bahwa saya ambil es kelapa siap jual dari dia dengan marjin keuntungan yg masih hmmm.. lumayan, kalo boleh dibilang besar malah.

Mulai hari itu saya yg biasa berangkat kesiangan harus ektra pagi, dengan mengendarai motor suzuki tua (keluaran tahun 1996) pagi banget saya berboncengan dengan adik saya lengkap dengan tas motor yg terbuat dari terpal truk gandeng yang berisi perlengkapan jualan es kelapa mampir dulu ke si Bapak penjual es kelapa untuk mengambil barang dagangan berupa kelapa yg sudah diserut lengkap   dengan air dan gulanya. Begitulah, pagi saya mempunyai ekstra kegiatan disaat mungkin teman-teman sekerja dengan saya masih sarapan dirumahnya, atau malah masih tidur. Tapi terbayar, setiap hari es tak bersisa bahkan kuantitasnya menambah terus! dari yg awalnya nyoba 20 gelas sampai habis hampir 100 gelas perhari.

Tak cuma sampai disitu, masalah timbul ketika waktu liburan adik saya  selesai. Ya, mungkin ada sekitar 1 bulanan. Adik saya mengusulkan sebuah nama, teman waktu smp nya yg masih tinggal di  kampung. Dari sinilah proses mutasi dari es kelapa ke nasi goreng bermula. Proses penjemputan selesai, singkat cerita si Rofik (sebut saja namanya begitu) sudah sampai di bekasi di rumah saya dijemput oleh adik saya. Setelah ngobrol-ngobrol rupanya dia bisa dan sudah lama berdagang di kampungnya jualan soto dan baso (ikut bosnya). Kalo opsi jualan soto saya coret karena sudah ada yg jualan soto di kafe itu. Opsi jualan baso yg kemudian bergulir, sampai tahap tester. saya kasih dia modal untuk membuat baso, tapi saya coret juga … gak enak! rupanya dia lebih jago buat soto dari pada baso.

Es kelapa berlanjut, sekali ini saya harus mengalah. Motor satu-satunya buat operasional es kelapa, jadi saya harus kembali ke seperti  beberapa tahun silam. Pergi ke pabrik naik jemputan. Sementara proses delegasi tugas di transfer dari adik saya ke si rofik berlangsung, setiap pagi fungsi saya digantikan si rofik. Setelah dirasa cukup dan memang waktu liburan adik saya sudah selesai .. oh ya nama adik saya Andi. Dia kembali ke semarang dengan bekal yg sangat lumayan dan pengalaman baru, bahkan saya dengar dia buka warung tenda pecel lele disana meskipun akhirnya bangkrut.

Proses delegasi es kelapa dari Andi ke si rofik saya anggap sukses, terbukti omset yg malah cenderung naik. Diiringi datangnya musim hujan, semakin hari semakin intens datangnya dan durasi hujan. Kalo yg ini sudah tidak ada jalan keluarnya, alam yg dilawan. Penjualan es kelapa anjlok. Semakin hari semakin berat sampai kesimpulan  saya harus mengganti menu.

Nasi goreng, itu ide istri saya dan berdasarkan resep dari dia yg lumayan enak. Proses penggantian berjalan sangat cepat, segera setelah gerobaknya dan alat-alat pendukungnya siap nasi goreng segera beroperasi. Saya sebenarnya kuang semangat  ketika mau ganti ke nasi goreng. Jam operasional kafe adalah dari jam 06.00 pagi – sekitar 19.00 malam. menyalahi kodrat, penjual nasi goreng di pinggir jalan biasanya buka dari sore sampai tengah malam. Saya kok malah jualan nasi goreng siang bolong. Ditambah rasa yg belum “menggigit”.

Tapi pesimistis saya tidak terbukti, nasi goreng menjadi primadona di kafe itu. Kadang saat saya iseng makan di kafe sambil memantau perkembangan sering senyum-senyum sendiri. Yo.. apa lumrah orang makan siang kok nasi goreng!

Perkembangan omset nasi goreng sangat mencengangkan, dari yg cuman 2 liter, meloncat ke 8 liter, dan stabil di kisaran 12-14liter perhari. Bahkan beberapa kali melewati angka 20 liter/hari. Kalo di rupiahin rata-rat omset 400 ribu/hari. Saya merasa usaha ini benar-benar membawa berkah. Dari sinilah saya dapat membeli motor baru untuk transport  saya ke pabrik.

Dari awal saya muak  dengan sistem kapitalis. Sangat mencengangkan melihat mereka (kaum kapitalis) mengeruk uang. Gaji yg saya terima terasa sangat kecil dg apa yg mereka dapatkan. Mana, saat keuntungan perusahaan turun sedikit saja, kebijakan yg diambil pasti pahit buat karyawan. Disaat mereka melakukan CI (Cost Innovation) kasarnya mah pengetatan pengeluaran. Saya sering melihat proyek-proyek pembangunan yg terus dilaksanakan. Bahkan terkesan sia-sia, belum selesai, sudah dibongkar ulang sampai berkali-kali. Muak melihatnya. Tren ini akan semakin terasa menjelang akhir tahun, saat hak karyawan untuk mendapat bonus, akan semakin terlihat geliatnya. Yang paling menyesakan adalah sistem produksi yg Saya bilang kacau, Scedhule produksi yg tidak jelas memicu pembengkakan biaya akibat kontainer landing, rework, repacking, dll. Semakin tahu kedalaman sistem yg berlaku di sana semakin terlihat ketidakberesan, ketidakadilan.

Dari awal, saya sudah menerapkan sistem bagi hasil dengan si rofik. 50:50. Saya rasa ini sistem  yang paling adil untuk membayar jerih payahnya. Tapi sayang kerja sama yg manis itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar satu tahun semuanya harus berakhir. Penyebabnya adalah tidak dilanjutkannya izin dari HRD karena satu dan lain hal.

Sebenarnya sudah saya ambil tindakan preventifnya. Tapi memang persaingan di luar, di pasar bebas lebih kejam. Saya buka outlet nasi goreng baru di dekat rumah dengan menyewa teras sebuah wartel dekat rumah. Tapi karena orangnya tidak sekualitas si rofiq dan karena bencana banjir saya harus menutup outlet saya itu. Gerobaknya terseret banjir ! Sebenarnya saya ingin meroling orang saya. yg sudah mapan (di kafe) dan yg baru dipegang si rofik, tapi karena pertimbangan terutama akan anjloknya pendapatan yg biasa diterima sirofik saya mengurungkan niat itu.

Dan semua berakhir, secara resmi saya harus mengangkut pulang gerobak yg di kafe dan menutup outlet nasi goreng di teras wartel, hampir bersamaan. Cerita manis itu berakhir sudah.

Saya bersyukur atas pelajaran yg saya dapat selama beroperasinya nasi goreng dan merasakan rupiah yg menurut saya berlimpah. Banyak pelajaran yg bisa diambil, bagaimana melihat giatnya sosok si Rofik, dengan tanggung jawab yg hampir sempurna. Saya belajar dari situ. Bahwa ternyata sesuatu yg saya anggap tidak berpeluang malah menghasilkan yg sebaliknya. Ada beberapa teman yg ikut mengelola lapak itu, saya ingat ada gado-gado dan siomay. kami bertiga dan sisanya pedagang dari luar. Hanya saya yg bisa bertahan, yg dua habis ditengah jalan. Masalah oranglah, sepi, dll. Kalaupun itu kafe tidak ditutup mungkin ceritanya berbeda.

Suatu saat Saya ngobrol dengan pengelola utama kafe dan Beliau salut melihat kesuksesan saya. Beruntung menurut saya bertemu orang sekualitas si Rofik. Tapi manusia hanya bisa berikhtiar sekuat mungkin mengenai hasil sepenuhnya ditangan Allah.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat…

Salam…!

Mukti prayitno

send me an e-mail

my blog

http://ttandem.wordpress.com

my facebook

http://www.facebook.com/pages/ttandem

my twiter

Filed under: INSPIRASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: